
USD/IDR 17.500
i think we are beyond cooked, but somehow our central bank (BI) seems to be silent about this
Rupiah melemah ke Rp17.495 per Dolar AS, setelah USD/IDR sempat menyentuh tertinggi rekor di Rp17.519.
Harga minyak tetap tinggi karena proses damai AS-Iran tersendat dan arus kapal di Selat Hormuz belum pulih normal.
Pasar menunggu data IHK AS malam ini, yang dapat menentukan arah Dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed.
Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa, dengan kurs pasangan mata uang USD/IDR sempat menembus Rp17.500 per Dolar AS dalam perdagangan harian. Berdasarkan data real-time, Rupiah melemah 90,1 poin atau 0,52% ke Rp17.495 per Dolar AS, setelah bergerak dalam rentang harian Rp17.395-Rp17.519.
Batas atas perdagangan tersebut menandai milestone pelemahan baru bagi Rupiah dalam data yang dipantau. Pergerakan ini menunjukkan tekanan di pasar valas belum mereda, terutama ketika sentimen eksternal masih dibayangi harga minyak tinggi, ketegangan geopolitik, dan ekspektasi suku bunga AS yang tetap ketat.
Hormuz Belum Normal, Minyak Tetap Mahal
Dari sisi geopolitik, pasar masih mencermati perkembangan konflik AS-Iran dan gangguan di Selat Hormuz. Reuters melaporkan harapan kesepakatan damai kembali memudar setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal balasan Iran. Di sisi lain, Tehran masih menuntut penghentian blokade laut AS, kompensasi kerusakan perang, pemulihan ekspor minyak, serta penegasan kedaulatan atas Hormuz.
Jalur strategis tersebut juga belum kembali normal. Arus kapal masih sangat terbatas dibandingkan periode sebelum perang, sehingga premi risiko di pasar energi tetap bertahan.
Data Bloomberg menunjukkan WTI Crude Oil kontrak Juni 2026 naik 0,88% ke US$98,93 per barel, sementara Brent Crude kontrak Juli 2026 menguat 0,67% ke US$104,91 per barel. Brent yang masih bertahan di atas US$100 per barel memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan impor energi, inflasi, dan beban fiskal Indonesia.
Sinyal Domestik Campuran: Ritel Melambat, Utang Jadi Perhatian Pasar
Dari dalam negeri, data terbaru menunjukkan momentum konsumsi mulai melambat. Penjualan ritel Indonesia tumbuh 3,4% YoY pada Maret, turun dari 6,5% YoY pada bulan sebelumnya. Angka ini masih menunjukkan ekspansi, tetapi perlambatannya memberi sinyal bahwa daya beli domestik belum sepenuhnya kuat di tengah tekanan harga, Rupiah lemah, dan ketidakpastian eksternal.
Pasar juga mencermati posisi utang pemerintah yang kian mendekati Rp10.000 triliun. Utang pemerintah tercatat Rp9.920,42 triliun hingga akhir Maret 2026, naik dari Rp9.637,90 triliun pada akhir 2025. Pemerintah menilai posisi tersebut masih aman karena rasio utang terhadap PDB berada di 40,75%, jauh di bawah batas 60% dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Meski PDB kuartal I-2026 tumbuh 5,61% YoY dan memberi bantalan fundamental, kenaikan nominal utang tetap menjadi perhatian di tengah Rupiah lemah dan harga minyak global yang tinggi. Kondisi ini membuat pasar lebih sensitif terhadap arah fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, permintaan valas korporasi, serta risiko global yang belum mereda.
IHK AS Jadi Penentu Arah Berikutnya
Fokus pasar malam ini tertuju pada rangkaian data inflasi AS yang berpotensi memengaruhi arah Dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed. Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) Maret diprakirakan naik 0,6% MoM, lebih rendah dari 0,9% pada bulan sebelumnya. Namun secara tahunan, inflasi utama diproyeksikan meningkat ke 3,7% YoY dari 3,3%.
Sementara itu, IHK inti diprakirakan naik 0,4% MoM dari 0,2%, dengan laju tahunan naik tipis ke 2,7% dari 2,6%. Angka yang lebih panas dari ekspektasi dapat memperkuat narasi suku bunga tinggi lebih lama di AS, menopang Dolar AS, dan menambah tekanan terhadap Rupiah.
Sebaliknya, data yang lebih jinak dapat membuka ruang bagi pelemahan Dolar AS. Namun, ruang pemulihan Rupiah masih berpotensi terbatas selama harga minyak tetap tinggi dan risiko geopolitik di Selat Hormuz belum menunjukkan perbaikan yang meyakinkan.