r/indonesiabebas
Former jeepney driver Diones is now sleeping on the streets after being forced to stop operating when diesel prices hit P100 per liter.
He now earns a living carrying passengers’ luggage at the Cubao bus terminal just to afford food. | via Izzy Lee, ABS-CBN News
We're one crisis, sickness, etc. away from being homeless.
Why doesn't dictators develop their countries and achieve their people's demands so they can be more powerful and richer long-term?
I don't see the logic of dictators ruining their countries and therefore loosing their powers if the alternative is getting 5 times richer later on by doing the right investments etc...
Motivasi
Kita mulai dari postingan pertama
Apa saja motivasi kalian murtad?
Anyone following Indonesian football league here? If so, which team do you follow closely?
I've been following Indonesian football for quite a while now, and I find it fascinating, especially when it comes to clubs' strength on league table season-by-season; as well as off-pitch matters such as fan culture, stadium management, club management, club histories, and the sociological dimensions of football club-average citizen relations. I’ve never been a regular matchday attendee (I quite value mine own life), but I make sure to keep up with the table results and follow the stories behind the clubs.
Personally, my attention is generally split across three clubs that mean something to me for different reasons.
Persija Jakarta is the one closest to home. Being from Jakarta, I do want to see Jakarta's own club be successful in the league and more connected to the city's identity. The club is one of the oldest clubs in the country, though it has always been quite disconnected from the city as a whole (until the rise of The Jakmania). Persija has the all-time most number of Perserikatan titles, though it was chiefly during this Perserikatan days that the club was seen as just a "national" club and not one representing Jakarta and its people. The Jakmania was quite an interesting phenomenon, a fanbase engineered by Governor Sutiyoso for political capital, but also basically a fanbase that brought life into Persija's matchday stands where there was none. But while The Jakmania are incredibly passionate and numerous, they often feel like a separate group from your "average" Jakartan, like a thing that you have to be initiated to get in. And despite being such a successful club in history (especially during Perserikatan days), I feel like Persija today remains lacking in a narrative that connects it to the city it seeks to represent. Feels like they need to work more on that. Always felt too that Persija felt more connected to Jakarta during ISL era, especially with Bambang Pamungkas not only being a club legend, but also a Jakarta icon. Guess somewhere along the way as we get into Liga 1 era that connection was sort of lost and needed to be rebuilt.
Then there’s Persib Bandung, right now arguably the biggest and most successful team in the country. They just won back-to-back Liga 1/Super League titles (2023–24 and 2024–25) and now close to winning it again in 2025-26 season, and they’re looking like a real dynasty in the modern era. With a rich history going involving Perserikatan titles and a proud symbol of not just Bandung, but also West Java as a whole, Persib isn’t just a football club, it’s practically a cultural institution. The fan culture, the pride, the way the whole region rallies behind them... it’s genuinely impressive and something I admire a lot. They show what it looks like when a club and its community are completely in sync. I went to college in Bandung (Jatinangor, actually, but come on), and I have to say, the kind of football culture they have over there in Bandung, is certainly something that Jakarta should strive for. Like there's real pride in Persib found in an average Bandung citizen, regardless of social class, occupation, and educational background. Here in Jakarta, it often feels like the 'upper middle' and upper classes typically dissociate themselves from Persija, or any kind of Indonesian football really (aside from the National Team), mostly due to hooliganism.
And finally, PSMS Medan holds a special place in my heart for what the club historically represented. Now struggling in Liga 2/Championship, they were once a powerhouse and a beautiful symbol of North Sumatran unity. In their glory days (especially the “Killer” era and strong Perserikatan performances, with their iconic rap-rap football), PSMS brought together players from so many different ethnic and religious backgrounds, Malay, Batak, Minang, Chinese-Indonesians, etc. all fighting together bringing glories for the city and the province. They achieved great success domestically and even made an impact in Asian competitions, once upon a time at least. I'd even go as far as to say that the downfall of PSMS (due to multiple mismanagements over the years) basically led to the loss of an important cultural institution and a champion of multicultural unity in North Sumatra.
Also quite very much invested in Mataram teams PSIM Yogyakarta, Persis Solo, and PSS Sleman (though unfortunately in recent years the three teams haven't played in the same league simultaneously, with PSIM in Liga 2 while Persis and PSS in Liga 1 last season, PSS in Liga 2/Championship while PSIM and Persis in Liga 1/Super League this season, and as for next season, it's potentially PSS and PSIM in Super League while Persis be in Championship - they're facing a relegation battle now). ISL-era giant Persipura is also quite a personal fascination of mine, though now they're in Liga 2/Championship; then also Bali United being a very professional club which managed to root itself among the Balinese folks and once a dominant force in Liga 1, though they're now a mid-table team; then also Borneo Samarinda, Dewa United Banten, and Malut United which has been three teams that for the past three seasons have consistently be in Top 6; and of course there's also Persebaya Surabaya which has been the only Perserikatan-era club to (despite never really being a serious title contender) consistently finish in Top 6 (except for that one time in 2023-24 season where they finished 12) since 2021 other than Persib (though ofc Persib has been the only one consistent in Top 6 since 2021, winning 2 titles and potentially 3 now).
So yeah, I’m a bit of a romantic observer of Indonesian football, loving the history, the regional pride, and the ups and downs.
Anyone else here actively following the league? What’s your team and why do you support them? Would love to hear your stories, whether you’re a die-hard Bobotoh, Jakmania, or support a smaller club with its own unique soul.
Kamar dagang cina di Indo kirim surat ke Prabowo
Still moved toward after crashing through the gates of the "Independence House" lol
Dedi Mulyadi Umumkan Mau Hapus Pajak Kendaraan, Diganti Jalan Berbayar
Bandung, CNN Indonesia --
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berencana menghapus pajak kendaraan bermotor dan menggantinya dengan kebijakan jalan berbayar sebagai bagian dari upaya mewujudkan jalan-jalan provinsi Jabar yang berkualitas.
Dedi menilai jalan berbayar lebih adil daripada pajak kendaraan bermotor.
"Kami ingin menghapus pajak kendaraan bermotor kemudian diganti dengan jalan berbayar. Artinya, menggunakan jalan, baru bayar. Jalan tidak digunakan, tidak usah bayar, hal ini untuk mewujudkan rasa keadilan keadilannya," kata Dedi pada akun Instagram pribadinya, Selasa (12/5).
Dedi mengatakan pemerintah Provinsi Jabar yang dipimpinnya, ingin mewujudkan jalan-jalan Provinsi Jawa Barat yang berkualitas, mulus, memiliki drainase yang memadai, lalu jalan yang dilengkapi oleh CCTV sebagai pengaman bagi para pengguna jalan.
Dedi juga ingin jalan di Jabar memiliki jaringan penerangan jalan umum yang memadai, dan dilengkapi pos pengamanan yang dilengkapi dengan mobil derek, mobil pemadam kebakaran, ambulance, dan tim paramedis.
Alasan lebih baik jalan berbayar dari pada pajak kendaraan bermotor, Dedi mengungkap agar setiap orang menggunakan jalan berdasarkan kebutuhan, tidak menggunakan jalan untuk hal-hal yang tidak penting.
"Sehingga jalan menjadi nyaman untuk kepentingan semua," kata dia.
Dedi mengatakan penghapusan pajak kendaraan bermotor ini masih dalam tahap gagasan. Namun ia telah menunjuk tim untuk melakukan kajian akan kebijakan tersebut.
"Ini baru gagasan, dan tim kajiannya, sudah kami siapkan untuk melakukan telaah yang melibatkan para akademisi, para pakar dan berbagai pihak lainnya yang memiliki kepentingan dan kemauan, serta kemampuan dalam membaca arah perkembangan jalan Hatur nuhun ya, sekali lagi ini baru gagasan," katanya.
Mobil SPPG nabrak 2 gerobak pedagang di Bekasi.
Kejadian hari ini jam 11.00, mobil SPPG ngebut sampai akhirnya hilang kendali, dan nabrak 2 gerobak pedagang.
Kebetulan kejadian dekat rumah gw, dan gw kenal 2 pedagang itu. Salah satunya pedagang tahu goreng yang anaknya masih kecil banget.
Fuck MBG
Kita punya Yakuza di tanah air
Organisasi Yakuza Maneges resmi dideklarasikan di Kota Kediri pada Sabtu malam (9/5/2026). Deklarasi yang digelar di salah satu hotel di Kota Kediri itu menyatakan organisasi tersebut bukan lagi identik dengan organisasi kriminal, melainkan wadah transformasi sosial dan spiritual bagi masyarakat, termasuk yang dikenal sebagai santri jalur kiri.
Organisasi ini berada di bawah naungan Majelis Sema’an Al-Quran dan Dzikrul Ghofilin serta mengutamakan nilai bahwa tidak ada manusia yang terlahir buruk secara permanen selama ada niat kembali ke jalan yang benar. Inisiator sekaligus Ketua Umum Yakuza Maneges Gus Thuba menyebut identitas petarung ditransformasikan menjadi semangat spiritual dan kemanusiaan serta bergerak dalam koridor hukum bersama aparat penegak hukum.
"Bukan lagi identitas organisasi kriminal, tapi simbol transformasi para petarung. Yakuza Maneges merupakan tempat bagi saudara-saudara kita yang sering kita sebut sebagai santri jalur kiri, mereka yang tersesat namun masih memiliki niat dan tekad untuk berbenah diri kembali ke jalan yang benar," ujar Gus Thuba dalam pidato deklarasi.
Deklarasi tersebut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, tokoh kepolisian AKBP Edy Herwiyanto, serta sejumlah pejabat daerah dan perwakilan anggota dari berbagai wilayah. Pemerintah Kota Kediri mengapresiasi lahirnya organisasi ini dan berharap langkah tersebut menjadi awal untuk berkontribusi, menjaga kebersamaan, serta menghadirkan energi positif bagi Kediri Raya maupun Indonesia.
Stay updated 24/7. Follow Jogja Student ✨
I don't know what to say anymore.
Can Indonesians get rid of these filthy cars from their country, or will you accept living with them like we Vietnamese do?
Thriller Romantic Tragic Horror
tragis + miris + sedih,
...dan terakhir screenshot sebuah "saran" dari seorang perempuan
detailed story: https://www.instagram.com/p/DYGLBMLE9WC/
source: https://www.instagram.com/p/DYFCJEPEsVM/
video: https://www.instagram.com/p/DYEUYRyxWnE/
>!rumah tangga mana lagi yg sedang/akan hancur karena standar sosmed!<
Bapak ganti jabatan jadi Hakim MK, anak lanjutin jabatan di DPR
Gedung DPR RI baru saja menjadi saksi momen pergantian antarwaktu (PAW) yang cukup menyita perhatian publik.
Pada sidang paripurna pembukaan masa sidang V tahun 2025-2026, Adela Kanasya Adies dari Fraksi Partai Golkar resmi dilantik menjadi anggota Dewan.
Menariknya, kursi yang ia duduki adalah milik ayah kandungnya sendiri, Adies Kadir.
- Momen sakral estafet kekuasaan ini dipimpin langsung oleh Ketua DPR RI, Puan Maharani.
Prosesi diawali dengan pembacaan petikan Keputusan Presiden RI tertanggal 22 April 2026 terkait peresmian PAW anggota DPR RI.
Mengacu pada Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2020, Adela kemudian mengucapkan sumpah janjinya di bawah panduan pimpinan DPR.
- Ia berjanji kepada Tuhan untuk mengemban amanah rakyat dengan sebaik-baiknya, seadil-adilnya, dan berpedoman teguh pada Pancasila serta UUD 1945.
Mengapa Adies Kadir melepaskan posisinya yang strategis di Senayan?
Adies Kadir (yang juga mantan Wakil Ketua DPR dan Waketum Golkar) secara resmi telah menyatakan mundur dari parlemen karena ia mendapat amanah baru yang lebih tinggi di ranah yudikatif, yakni ditetapkan sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK).
- Mengingat yang menggantikan adalah anak kandungnya sendiri, isu dinasti politik dan nepotisme tentu tak terhindarkan.
Namun, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dengan tegas menepis isu tersebut.
- Bahlil menegaskan bahwa naiknya Adela bukan semata-mata karena statusnya sebagai "anak bapak", melainkan murni karena mekanisme aturan perolehan suara.
"PAW itu dilakukan, yang akan mengganti adalah suara terbanyak setelah anggota DPR terpilih," jelas Bahlil di Istana Kepresidenan.
Kebetulan yang sukses menduduki peringkat kedua di bawah Adies Kadir adalah putrinya sendiri.
Untuk membuktikan bahwa naiknya Adela sah secara hukum kepemiluan, mari kita lihat data rekapitulasi KPU Jatim untuk Pileg 2024 di daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur I dari Partai Golkar
Peringkat 1: Adies Kadir dengan perolehan dominan 147.185 suara.
Peringkat 2: Adela Kanasya Adies dengan perolehan 12.792 suara.
Peringkat 3: Andi Budi Sulistijanto dengan selisih tipis, yakni 12.064 suara.
Naiknya Adela Kanasya Adies ke panggung Senayan adalah bukti nyata dari uniknya dinamika politik pemilu di Indonesia.
Mundurnya sang ayah untuk mengabdi di Mahkamah Konstitusi menjadi "durian runtuh" bagi sang putri yang kebetulan mengantongi suara terbanyak kedua di Dapil yang sama.
Kini, publik menanti gebrakan sang srikandi muda Golkar ini: mampukah ia membuktikan kualitasnya sendiri, atau hanya akan berada di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah?