Motivasi
Kita mulai dari postingan pertama
Apa saja motivasi kalian murtad?
Kita mulai dari postingan pertama
Apa saja motivasi kalian murtad?
brainwashing nonstop, selangkah PASTI menyusul achievements our DnA brothers siblings nation
Imagine having hatred towards people who love each other with consent
kalo gwe
- jalan2 ke bali terus beli sebotol Bir Bintang, nyobain dikit rasanya gak enak, sisanya itu bir gwe buang 😂
- pas maen ke filipina, saat breakfast ada pilihan pork bacon sandiwch, gwe cobain, eh anjir ternyata enak, sejak saat itu gwe makan babi lumayan rutin (at least every 3-4 weeks), sejauh ini babi yg paling enak yg pernah dirasain adalah Tonkotsu Ramen
- ngesex sama ex, ini sebenarnya gwe ngerasa bersalah, karena saat itu mantan mayan taat (rajin sholat) walaupun dia ga fanatik2 amat sama Islam
pas ngajakin jalan2 ke Malang, gwe nyeletuk iseng eh kita hotelnya sekamar aja aya, mayan ngehemat, eh jawaban dia bikin kaget, ternyata dia mau
pas di kamar yaudah deh gak bisa ditahan lagi, pelukan, cipika cipiki sambil ngobrol akhirnya buka baju, cuma ya dia gak buka celana dalam, gak mau sampai senggama yaudah crottnya di luar aja
tapi setelah itu kita jadi ketagihan nge hotel tiap pekan, pas nginap ke 4 atau ke 5nya baru eh terjadi senggama, holy shit enak bener rasanya
anyway pada saat penetrasi gwe gak pake kondom, jadi baru pake kondom pas mau crott aja, kelakuan bodoh sih ini, karena pada dasarnya bisa hamil karena pre-cum (sedikit sperma bisa keluar di awal tanpa kita sadari), jangan ditiru guys, selalu pake kondom dari sejak awal
oiya soal alkohol, gwe gak ngerti alkohol itu enaknya dimana, pernah beli sebotol wine gara2 kena pengaruh Game of Thrones, buset dah rasanya gak masuk, mana mahal pula
ada bbrp sih yang rasanya bisa diterima kayak Beer Prost atau cocktail macam Mojito, tapi ya dibilang enak juga kaga, mending minum kopi 😅
minum alkoholnya sih masih, bukan karena rasa, cuma sebagai bentuk ekspresi kebebasan aja, it's just feel good i can do anything i want
btw belum pernah ngerasain mabok, takut ketagihan, jadi pas minum alkohol kalo udah ngerasa pusing/mual, langsung berhenti
saya duluan ya, saya pernah sekolah pesantren dan dulu hobi banget debat di forum diskusi ke atheist/agnostic agar mereka masuk islam kembali, saya benci sama mereka bener2 merusak aqidah
etapi gara2 hal itu malah jadi kebalik wkwkw, malah saya yang terpengaruh, dikit sedikit meragukan islam yang akhirnya jadi atheis deh
oiya saya juga dulu anti banget pacaran dan tiap valentine suka banget "dakwah" kalo pacaran haram, valentine haram dll
sekarang merasa kesel melakukan hal tsb karena di jaman SMP dan SMA jadinya gak punya pengalaman pacaran, pernah jatuh cinta ma seseorang "akhwat", dia juga kayaknya suka, cuma ya gitu hubungannya juga dijaga bener2, "pacaran" nya saling mengunjungi rumah masing2, ngobrol ma bapak ibunya, gak ada fun2nya asli, punya hubungan kek gini cuma 2 bulanan aja, setelah itu selama jadi muslim gak pernah yg namanya punya hubungan lagi dgn perempuan
oiya saya juga rajin tahhajud, puasa sunnah senin kamis dan hampir tiap pekan ngikutin pengajian
Gw suka baca2x tentang filsafat gitu, gw tertarik sama konsep nihilist, yang gw tangkap dari nihilist itu yaitu dimana kita menganggap tidak ada makna, ataupun nilai yang absolut apapun di dunia ini, termasuk hidup kita sendiri, masalahnya kalo kita membuang semua makna ataupun nilai yang kita pegang sekarang ini kita akan merasa tidak bergairah dan hilang semangat untuk hidup karna tidak ada lagi tujuan yang ingin kita capai.
Makanya salah satu alasan munculnya agama itu yaitu hadir untuk memberi tujuan, makna, dan nilai bagi hidup manusia, sehingga manusia menjadi semngat dan bergairah untuk hidup dan mencapai tujuan yang diciptakan oleh agama. Seperti masuk surga dan neraka, atau akan bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik, dsb.
Pertanyaannya seandainya kita membuang konsep tujuan dari agama tersebut, konsep apa yang paling relevan untuk menggantikannya?
Gw percaya Moralitas itu gak ada, itu hanyalah ilusi.
Yang ada hanyalah kepentingan setiap individu ataupun kelompok manusia.
Sejak konflik antara Rezim Islam Iran dengan AS dan Israel 2026, sebagian Muslim mencoba mencocokkan peristiwa tersebut dengan hadis tentang “70.000 Yahudi dari Isfahan”(Sahih Muslim 2944) sebagai bukti kebenaran Islam.
Namun, dalam kajian historis-kritis, hadis ini dapat dipahami melalui beberapa pendekatan. TL;DR: Secara akademis ada dua posisi mengenai hadits(skeptis dan moderat), hadits ini merupakan proyeksi dan fabrikasi terhadap Abu Isa Al-Isfahani yang mengaku Nabi, hadits ini mustahil terwujud karena Yahudi di Iran kurang dari 70.000, serta angka 70.000 merupakan angka simbolis dalam agama Abrahamik dan tradisi semitik.
Berikut argumen lengkap mengenai pendekatan akademis terhadap hadits 70.000 Yahudi dari Isfahan:
Dalam menyikapi hadis, terdapat tiga kubu utama: a. Skeptisisme ekstrem Posisi ini diwakili oleh sarjana seperti Ignaz Goldziher serta kalangan Quranis. Mereka memandang bahwa hadis, termasuk yang dinilai sahih, merupakan produk budaya dan konstruksi sosial umat Islam pada masa setelah Nabi.
b. Skeptisisme moderat Posisi ini diwakili oleh Harald Motzki. Ia menggunakan metode ICMA, yaitu pendekatan yang menggabungkan analisis sanad dan matan untuk menilai probabilitas historis suatu hadis. Dalam kerangka ini, hadis yang memiliki banyak jalur independen serta berkaitan dengan aspek ibadah, moral, dan etika—serta minim muatan politik—dinilai memiliki peluang lebih besar berasal dari Nabi. Sementara itu, hadis eskatologis seperti ini cenderung dipandang lebih kontekstual.
c. Posisi tradisionalis Posisi ini dianut oleh mayoritas Sunni, yang meyakini bahwa hadis merupakan perkataan autentik Nabi melalui metodologi jarh wa ta‘dil yang ketat dalam menilai para perawi.
Konteks historis hadis Secara kontekstual, hadis ini dipahami berkaitan dengan seorang perawi bernama Abd al-Rahman al-Awza'i (w. 774 M), yang hidup pada masa munculnya Abu Isa al-Isfahani—seorang Yahudi dari Isfahan yang mengaku sebagai nabi dan mesias serta melakukan pemberontakan pada era Abbasiyah. Oleh karena itu, hadis ini dapat dipahami sebagai vaticinium ex eventu (nubuat setelah kejadian), yang merefleksikan konteks sosial-politik saat itu, mengandung bias teologis, serta kemudian diatributkan kepada Muhammad.
Pertimbangan demografis Pasca Revolusi Iran 1979, jumlah Yahudi di Iran menurun drastis dari lebih dari 80.000 menjadi sekitar 8.000–15.000 orang. Di Isfahan sendiri, jumlahnya berkisar 1.200–1.500. Hal ini membuat Sahih Muslim 2944 sulit dipahami secara literal sebagai prediksi konflik sekarang.
Angka 70.000 itu merupakan angka simbolik dalam agama Abrahamik dan tradisi semitik. Contohnya dalam Islam ada hadits mengenai 70.000 Malaikat yang mengunjungi Baitul Ma'mur dan 70.000 orang Israel yang wafat dalam wabah yang dikirim oleh Tuhan pada masa Raja Daud.